Kegiatan Nasional

1999



Jakarta (18/07/2019) - Tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia secara Geografis merupakan sebuah negara kepulauan yang memiliki deretan pegunungan, terletak dalam barisan Ring Of Fire atau Alur Gempa. Atas dasar latar belakang tersebut, Indonesia bisa terbilang negara yang rawan terjadinya bencana, seperti gempa bumi. Bahkan akhir-akhir ini potensi terjadinya gempa sering terjadi, sebutlah seperti di Lombok, Palu, dan yang terakhir terjadi di Halmahera dan Bali.

TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik sepatutnya menjadi Media Televisi yang pertama kali yang mengabarkan kejadian bencana di Indonesia. Menjadi media pertama dan terdepan dalam memberikan informasi , baik terjadinya bencana sampai proses penanggulangan bencana tersebut. Untuk itulah, sebagai langkah awal perwujudan proses tersebut, TVRI mengadakan Workshop Sehari Penanganan Bencana yang bekerjasama sama dengan elemen kelembagaan yang menangani bencana yaitu Basarnas, BNPB, BMKG, dan Kementerian Kominfo yang diselenggarakan pada tanggal 17 Juli 2019 bertempat di lantai 12 GPO TVRI.

Workshop dibuka oleh Direktur Program dan Berita LPP TVRI, Apni Jaya Putra. Dalam sambutan pembukanya Apni Jaya Putra memaparkan peran LPP TVRI dalam mengembangkan sistem informasi kebencanaan harus menjadi Leading Sector. Dengan jangkauan yang luas, sistem ini kelak akan memberikan informasi baik peringatan dini maupun pada saat bencana, secara Realtime.

Pihak Basarnas, yang diwakili oleh Brigjen TNI (Marinir) Budi Purnama selaku Direktur Operasi, menjelaskan tentang visi misi Basarnas. Selain itu juga beliau menjelaskan Tugas dan Fungsi, serta Tupoksi dari Basarnas dalam penanganan bencana. Di akhir kesimpulan paparannya beliau menjelaskan Basarnas adalah instansi pemerintah yang bertanggung jawab terhadap pelayanan operasi SAR kecelakaan pesawat udara, kecelakaan kapal, bencana dan/atau kondisi membahayakan manusia dan kecelakaan darat yang memerlukan penanganan khusus, serta mendukung BNPB/BPBD/PEMDA dalam  SAR penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat.

DR. Yolak Dalimunthe, selaku Direktur Tanggap Darurat BNPB dalam kesempatan workshop ini menjelaskan tentang Manajemen Penanganan Darurat Bencana. Jenis-jenis ancaman bencana yang terjadi di Indonesia, dan Trend Bencana di Indonesia dari tahun 2013 hingga 2018.Beliau menambahkan bahwa Ekspetasi masyarakat Indonesia terhadap BNPB & BPBD sangat besar. Kehadiran BNPB & BPBD tak lepas dari Iptek dan professional.

Pada sesi berikutnya, Tiar Prasetya selaku Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi Tsunami BMKG Jakarta memaparkan thema Peran Media Dalam Rantai Peringatan Dini Tsunami. Apa saja yang menjadi faktor efektivitas dan tata cara membangun sebuah media dalam mata rantai peringatan dini tsunami. Dalam sesi ini juga dijelaskan Pola Penyebaran Informasi Melalui Media Televisi dan Radio yang telah dilakukan oleh BMKG.

Di sesi terakhir, wakil dari Kementerian Kominfo Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Direktorat Pengembangan Pitalebar memaparkan tentang Telekomunikasi Khusus untuk Kebencanaan. Indonesia terletak di wilayah potensial bencana . Masyarakat membutuhkan informasi cepat terkait Early Warning dan tanggap bencana untuk mengurangi resiko dan kerugian akibat bencana. Kementerian/ Lembaga belum memiliki sistem penyampaian informasi bencana yang terintegrasi, merupakan latar belakang pentingnya Telekomunikasi Khusus tersebut.

Sebagai langkah awal dari workshop ini, dalam waktu dekat LPP TVRI akan mendirikan Studio Mini di BMKG Jakarta, dimana pada sesi program Semangat Pagi Indonesia, akan secara langsung mengabarkan kondisi prakiraan cuaca dari studio mini tersebut. (Syafarudin)


Bagikan Artikel ini ke