Berita DKI Jakarta

460



TVRI JAKARTA - Yayasan lembaga konsumen Indonesia YLKI sangat menyayangkan adanya kenaikan tarif ojol di Jabodetabek dengan batas bawah 2.250 per kilometer dan batas atas menjadi 2.650 per kilometer.

Menurutnya dalam mengambil kebijakan jangan dilakukan karena dorongan massa, yang akhirnya dapat merugikan konsumen. Pengguna ojek online di Jabodetabek bersiaplah dengan kenaikan tarif ojol. Karena Kementerian Perhubungan Sepakat untuk menaikkan tarif batas bawah dari Rp 2.000,Km menjadi Rp 2.250/km dan tarif batas atas dari Rp 2.500 menjadi Rp 2.650/km.

Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiadi mengatakan kenaikan ini berdasarkan survei yang dilakukan pada 1.860 responden di mana respoden tersebut menyatakan tidak merasa keberatan dengan kenaikan tarif ojol. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia(YLKI) pun mengkritisi kebijakan tersebut yang menaikan tarif karena dorongan massa.
YLKI memberikan setidaknya 8 catatan terkait penaikan tarif ojol ini.  Salah satu yang utama yakni meminta agar pemerintah tidak mengambil kebijakan publik berdasarkan tekanan massa.
Bahkan, YLKI meminta agar pengemudi ojol tidak mengerahkan massa dalam menekan pemerintah. Menurutnya, hal ini menjadi preseden buruk bagi penetapan kebijakan publik.
Kenaikan tarif jasa ojol ini bukan hanya setuju atau tidak setuju, tapi kompromi untuk pengemudi dan konsumen.

Catatan lainnya yakni tingkat keselamatan sepeda motor paling rendah baik untuk pribadi apalagi angkutan umum. karena roda dua dimanapun tempatnya tingkat keselamatan sangat rendah. Sekalipun di industri otomotif tidak membuat untuk angkutan umum. Dengan adanya kenaikkan tarif ini, diharapkan tingkat keamanan ojek onine kedepannya lebih diutamakan lagi.


Bagikan Artikel ini ke